Sembahyang Sebelum Membangun Rumah Cina

Sembahyang Sebelum Membangun Rumah Cina



2016-08-20 23:57:11

Pembangunan Rumah Menurut Pandangan Hindu



Oleh : Ni Made Anggra Wahyuni


I.



PENDAHULUAN

Bali memang terkenal dengan budayanya yang kental. Masyarakat memang teguh kebudayaan yang mereka dapat dari para leluhur. Hal ini masih berlangsung hingga saat ini. Salah satu sikap mereka tersebut tercermin dalam arsitektur tradisional bali yang sangatlah berbeda dengan arsitek yang dimiliki tempat lain.

Arsitektur tradisional Bali memanglah sangat menarik untuk dinikmati dan dipelajari. Bukan hanya pura, tapi rumah hingga gedung modernpun tetap memiliki satu kesamaan yang indah. Hal ini rupanya justru yang membuat Bali teasa begitu berbeda dan cantik.

Rumah tradisional Bali tidak sebatas hanya merupakan tempat tinggal sebuah keluarga saja. Namun, ditempat ini pula banyak dilakukan upacara-upacara keagamaan untuk mendekatkan diri dengan Pencipta. Maka dari itu, bentuk dan arsitektur di Bali tampak berbeda.

Dalam arsitektur tradisional Bali, ada acuan yang disebut Asta Kosala Kosali. Asta Kosala Kosali adalah aturan tentang bentuk-bentuk niyasa, rumah  atau pelinggih. Bentuk-bentuk tersebut meliputi ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalihan atau tingkatan dan juga hiasan. Selain itu, juga dalam asta kosala kosali perlu juga memperhatikan luas halaman. Halaman perlu dipikirkan untuk pembagian ruangan serta halaman yang digunakan. Di dalam konsep rumah tradisional Bali, jarak antara pelinggih juga tidak bisa sembarangan. Semua bentuk-bentuk tersebut menjadi elemen wajib yang harus digunakan dalam, membangun arsitektur tradisional Bali. Oleh karena itu, disini dapat terlihat bahwa masyarakat Bali sangatlah detail dalam merancang bangunan demi mendapatkan hasil sesuai kebutuhan sekaligus bernilai seni tinggi.

Hal yang menarik dari rumah tradisional Bali adalah terlihat dari arah puranya. Letak pura yang berada di utara membuat pembangunan rumah menjadi sarat akan arah mata angin. Ternyata, arah tersebut juga dipengeruhi oleh aturan kosala kosali. Arah-arah tersebut terbagi menjadi arah timur dan arah kaja sebagai hulu. Arah timur merupakan arah yang sama dengan difinisi kita ketika menggunakan kompas. Sedangkan arah kaja adalah arah yang ditentukan dengan menggunakan patokan letak gunung maupun bukit. Namun penggunaan arah Kaja hendaknya juga dilengkapi dengan menggunakan arah kompas. Hal ini dimaksudkan agar pembangunan arah pura bisa tepat persis sesuai dengan arah mata angin yang utama. Jika sudah demikian, maka akan mempermudah mengatur pelinggih-pelinggih, mempermudah saat diselenggarakannya upacara, serta mempermudah arah untuk bersembahyang.


Ii.



PEMBAHASAN

1.


Tata Letak Bangunan

Tata letak bangunan di Bali mengikuti konsepNawa Sanga (9 arah mata angin). Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri, seperti misalnya:

i)

Dapur, karena berhubungan dengan Api maka Dapur ditempatkan di Selatan,

ii)

Tempat Sembahyang karena berhubungan dengan menyembah akan di tempatkan di Timur tempat matahari Terbit.

3)

Karena Sumur menjadi sumber Air maka ditempatkan di Utara dimana Gunung berada begitu seterusnya.

Selain itu sosial status juga menjadi pedoman.  jadi rumah di bali itu ada yang disebut Puri juga atau Jeroan, biasanya dibangun oleh warna / wangsa Kesatria. tapi karena sekarang banyak yang sudah kaya diBali, jadi siapapun boleh membuat yang seperti ini. Namun mungkin nanti bedanya di Tempat Persembahyangan di Dalamnya saja.

Warna itu merupakan sistem hirarki, di Bali Hirarkial itu juga berpengaruh terhadap tata ruang bangunan rumahnya. Dalam pembuatan rumahnya rumah akan dibagi menjadi:

1)


Jaba

 untuk bagian paling luar bangunan

2)


Jaba jero

 untuk mendifinisikan bagian ruang antara luar dan dalam, atau ruang tengah

Jero untuk mendiskripsikan ruang bagian paling dalam dari sebuah pola ruang yang dianggap sebagai ruang paling suci atau paling privacy bagi rumah tinggal

Read:  Tujuan Membangun Rumah Sakit Di Pedalaman

Di konsep ini juga disebutkan tentang teknik konstruksi dan materialnya. ada namanya Tri Angga, yang terdiri dari:

1)


Nista

 menggambarkan hirarki paling bawah dari sebuah bangunan, diwujudkan dengan pondasi rumah atau bawah rumah sebagai penyangga rumah. bahannya pun biasanya terbuat dari Batu bata atau Batu gunung.

ii)


Madya

 adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela dan pintu. Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia

3)


Utama

 adalah symbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.

Berikut bagian-bagian dari rumah Bali:

1)


Pamerajan

 adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga mempunyai pamerajan yang letaknya di Timur Laut pada sembilan petak pola ruang

2)


Umah Meten

 yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat

3)


Bale Sakepat

, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota keluarga lain yang masih inferior.

4)


Bale tiang sanga

 biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu

5)


Bale Dangin

 biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat bendabenda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya.

6)


Lumbung

 sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi dan hasil kebun lainnya.

7)


Paon (Dapur)

 yaitu tempat memasak bagi keluarga.

8)


Aling-aling

 adalah bagian archway yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus kedalam tetapi menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam.

9)


Angkul-angkul

 yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk.


ii.



Landasan pembangunan Rumah Di Bali

1)

Landasan filosofis ASTA KOSALA KOSALI

(1)

Hubungan Bhuwana Alit dengan Bhuwana Agung
. Pembangunan perumahan adalah berlandaskan filosofis bhuwana alit bhuwana agung. Bhuwana Alit yang berasal dari Panca Maha Bhuta adalah badan manusia itu sendiri dihidupkan oleh jiwatman. Segala sesuatu dalam Bhuwana Alit ada kesamaan dengan Bhuwana Agung yang dijiwai oleh Hyang Widhi. Kemanunggalan antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit merupakan landasan filosofis pembangunan perumahan umat Hindu yang sekaligus juga menjadi tujuan hidup manusia di dunia ini.

(2)

Unsur- unsur pembentuk
. Unsur pembentuk membangun perumahan adalah dilandasi oleh Tri Hit a Karana dan pengider- ideran (Dewata Nawasanga). Tri Hita Karana yaitu unsur Tuhan/ jiwa adalah Parhyangan/ Pemerajan. Unsur Pawongan adalah manusianya dan Palemahan adalah unsur alam/ tanah. Sedangkan Dewata Nawasanga (Pangider- ideran) adalah sembilan kekuatan Tuhan yaitu para Dewa yang menjaga semua penjuru mata angin demi keseimbangan alam semesta ini.

two)

Landasan Etis

(1)

Tata nilai
 dari bangunan adalah berlandaskan etis dengan menempatkan bangunan pemujaan ada di arah hulu dan bangunan- bangunan lainnya ditempatkan ke arah teben (hilir). Untuk lebih pastinya pengaturan tata nilai diberikanlah petunjuk yaitu Tri Angga adalah Utama Angga, Madya Angga dan Kanista Angga dan Tri Mandala yaitu Utama, Madya dan Kanista Mandala.

(ii)

Pembinaan hubungan dengan lingkungan
. Dalam membina hubungan baik dengan lingkungan didasari ajaran Tat Twam Asi yang perwujudannya berbentuk Tri Kaya Parisudha

3)

Landasan Ritual

Dalam mendirikan perumahan hendaknya selalu dilandaskan dengan upacara dan upakara agama yang mengandung makna mohon ijin, memastikan status tanah serta menyucikan, menjiwai, memohon perlindungan Ida Sang Hyang Widhi sehingga terjadilah keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin.

Read:  Bentuk Kayu Yang Biasa Digunakan Untuk Membangun Rumah


iii.



Konsep Perujudan Perumahan Umat Hindu

Konsepsi perwujudan perumahan umat Hindu merupakan perwujudan landasan dan tata ruang, tata letak dan tata bangunan yang dapat dibagi dalam :

ane)


Keseimbangan Alam

: Wujud perumahan umat Hindu menunjukkan bentuk keseimbangan antara alam Dewa, alam manusia dan alam Bhuta (lingkungan) yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan tempat tinggal dan pekarangan dengan penunggun karangnya yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

ii)


Rwa Bhineda, Hulu Teben, Purusa Pradhana

. Rwa Bhineda diwujudkan dalam bentuk hulu teben (hilir). Yang dimaksud dengan hulu adalah arah/ terbit matahari, arah gunung dan arah jalan raya (margi agung) atau kombinasi dari padanya. Perwujudan purusa pradana adalah dalam bentuk penyediaan natar. sebagai ruang yang merupakan pertemuan antara Akasa dan Pertiwi.

iii)


Tri Angga dan Tri Mandala

. Pekarangan Rumah Umat Hindu secara garis besar dibagi menjadi three bagian (Tri Mandala) yaitu Utama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai utama (seperti tempat pemujaan). Madhyama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai madya (tempat tinggal penghuni) dan Kanista Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai kanista (misalnya: kandang). Secara vertikal masing- masing bangunan dibagi menjadi 3 bagian (Tri Angga) yaitu Utama Angga adalah atap, Madhyama angga adalah badan bangunan yang terdiri dari tiang dan dinding, serta Kanista Angga adalah batur (pondasi).

4)


Harmonisasi dengan potensi lingkungan

. Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat seperti bahan bangunan dan prinsip- prinsip bangunan Hindu.


4.



Upacara Membangun Rumah

1)


Upacara Nyapuh sawah dan tegal

. Apabila ada tanah sawah atau tegal dipakai untuk tempat tinggal. Jenis upakara : paling kecil adalah tipat dampulan, sanggah cucuk, daksina l, ketupat kelanan, nasi ireng, mabe bawang jae. Setelah “Angrubah sawah” dilaksanakan asakap- sakap dengan upakara Sanggar Tutuan, suci asoroh genep, guling itik, sesayut pengambeyan, pengulapan, peras panyeneng, sodan penebasan, gelar sanga sega agung 50, taluh iii, kelapa 3, benang + pipis.

2)


Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan

. Upakaranya ngeruwak bhuwana adalah sata/ ayam berumbun, penek sega manca warna. Upakara Nanem dasar: pabeakaonan, isuh- isuh, tepung tawar, lis, prayascita, tepung bang, tumpeng bang, tumpeng gede, ayam panggang tetebus, canang geti- geti.

iii)


Upakara Pemelaspas

. Upakaranya : jerimpen 50 dulang, tumpeng putih kuning, ikan ayam putih siungan, ikan ayam putih tulus, pengambeyan 50, sesayut, prayascita, sesayut durmengala, ikan ati, ikan bawang jae, sesayut Sidhakarya, telur itik, ayam sudhamala, peras lis, uang 225 kepeng, jerimpen, daksina 50, ketupat 50 kelan, canang 2 tanding dengan uang 2 kepeng. Oleh karena situasi dan kondisi di suatu tempat berbeda, maka upacara

Upakara tersebut di atas disesuaikan dengan kondisi setempat. Dalam melihat tata budaya dari berbagai suku di Republic of indonesia , bentuk budaya Bali telah berkembang dengan ciri dan kepribadian tersendiri.

Dari sudut arsitektur tradisional , peranan agama dan kebudayaan dipengaruhi kebudayaan Cina dan India yang melebur ke dalam ajaran agama mereka yaitu Hindu-Budha, sehingga peranannya sangat mendalam dan dijadikan pangkal untuk mencipta, petunjuk petunjuk ini dikenal dengan nama Hasta Bumi,Hasta Kosala Kosali,Hasta Patali, sikuting umah, dan lain-lain yang berisikan berbagai petunjuk , pantangan, tata cara perencanaan, pelaksanaan dan lain-lain dalam mendirikan suatu bangunan .


v.



Pemilihan Tanah Pekarangan

Tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara, pelemahan datar (asah), pelemahan inang, pelemahan marubu lalah(berbau pedas).

Tanah yang patut dihindari sebagai tanah lokasi membangun perumahan adalah :

i)

Karang karubuhan (tumbak rurung/ jalan),

two)

Karang sandang lawe (pintu keluar berpapasan dengan persimpangan jalan),

Read:  Bangunan Rumah Walet Dari Kayu

3)

Karang sulanyapi (karang yang dilingkari oleh lorong (jalan)

iv)

Karang buta kabanda (karang yang diapit lorong/ jalan),

v)

Karang teledu nginyah (karang tumbak tukad),

half-dozen)

Karang gerah (karang di hulu kahyangan),

vii)

Karang tenget,

8)

Karang buta salah wetu,

nine)

Karang boros wong (dua pintu masuk berdampingan sama tinggi),

10)

Karang suduk angga, karang manyeleking dan yang paling buruk adalah

eleven)

Tanah yang berwarna hitam- legam, berbau “bengualid” (busuk)

Tanah- tanah yang tidak baik (ala) tersebut di atas, dapat difungsikan sebagai lokasi membangun perumahan jikalau disertai dengan upacara/ upakara agama yang ditentukan, serta dibuatkan palinggih yang dilengkapi dengan upacara/ upakara pamarisuda.

III.

PENUTUP


i.



Simpulan

Dari pembahasan di atas maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut, dalam membangun sebuah bangunan rumah di Bali kita harus mengikuti yang namanya aturan yang sering disebut Asta Kosala Kosali. Dan peletakan setiap bagunan harus mengikuti konsep Nawa Sanga.
Selain itu sosial condition juga menjadi pedoman.  jadi rumah di bali itu ada yang disebut Puri juga atau Jeroan, biasanya dibangun oleh warna / wangsa Kesatria. tapi karena sekarang banyak yang sudah kaya diBali, jadi siapapun boleh membuat yang seperti ini. Namun mungkin nanti bedanya di Tempat Persembahyangan di dalamnya saja. Warna itu merupakan sistem hirarki, di Bali Hirarkial itu juga berpengaruh terhadap tata ruang bangunan rumahnya.

Pembangunan rumah di Bali juga memiliki landasan yaitu landasan filosofi Asta Kosala Kosali, landasan Etis dan landasan Ritual. Konsepsi perwujudan perumahan umat Hindu merupakan perwujudan landasan dan tata ruang, tata letak dan tata bangunan yang dapat dibagi dalam : i)Keseimbangan Alam: Wujud perumahan umat Hindu menunjukkan bentuk keseimbangan antara alam Dewa, alam manusia dan alam Bhuta (lingkungan) yang diwujudkan dalam satu perumahan terdapat tempat pemujaan tempat tinggal dan pekarangan dengan penunggun karangnya yang dikenal dengan istilah Tri Hita Karana, 2)Rwa Bhineda, Hulu Teben, Purusa Pradhana. Rwa Bhineda diwujudkan dalam bentuk hulu teben (hilir). Yang dimaksud dengan hulu adalah arah/ terbit matahari, arah gunung dan arah jalan raya (margi agung) atau kombinasi dari padanya. Perwujudan purusa pradana adalah dalam bentuk penyediaan natar. sebagai ruang yang merupakan pertemuan antara Akasa dan Pertiwi, three)Tri Angga dan Tri Mandala. Pekarangan Rumah Umat Hindu secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian (Tri Mandala) yaitu Utama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai utama (seperti tempat pemujaan). Madhyama Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai madya (tempat tinggal penghuni) dan Kanista Mandala untuk penempatan bangunan yang bernilai kanista (misalnya: kandang). Secara vertikal masing- masing bangunan dibagi menjadi three bagian (Tri Angga) yaitu Utama Angga adalah atap, Madhyama angga adalah badan bangunan yang terdiri dari tiang dan dinding, serta Kanista Angga adalah batur (pondasi), iv)Harmonisasi dengan potensi lingkungan. Harmonisasi dengan lingkungan diwujudkan dengan memanfaatkan potensi setempat seperti bahan bangunan dan prinsip- prinsip bangunan Hindu.

Adapun upacara membangun rumah tahapannya yaitu mulai dari Upacara Nyapuh sawah dan tegal, Upacara pangruwak bhuwana dan nyukat karang, nanem dasar wewangunan, Upakara Pemelaspas. Dalam membangun sebuah rumah menurut Hindu adapun aturannya dalam pemilihan tanah yang akan di bangunin rumah.

Sumber:http://madeanggrawahyuni.blogspot.co.id/

ane Januari 2014

                           ane

                                                   1


Sembahyang Sebelum Membangun Rumah Cina

Source: http://ehousing.perumahan.pu.go.id/post/pembangunan-rumah-menurut-pandangan-hindu

Check Also

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal Rencana Anggaran Biaya (RAB) Bangunan Tahun 2020 File Sofcopy Dalam …