Rumah Mewah Yang Baru Dibangun

Rumah Mewah Yang Baru Dibangun

Keraton Surakarta Hadiningrat

ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦯꦹꦫꦏꦂꦡꦲꦢꦶꦤꦤꦶꦔꦿꦴꦠ꧀

Karaton Surakarta Hadiningrat
Rumah Mewah Yang Baru Dibangun

Lambang Kesunanan Surakarta Hadiningrat

Keraton Surakarta.jpg

Tampak depan Kori Kamandungan Lor di Keraton Surakarta

Informasi umum
Kota Surakarta
Negara Indonesia
Peletakan batu 1743
Diresmikan 20 Februari 1745
Pemilik Kesunanan Surakarta Hadiningrat
Dikenal karena Istana Kesunanan Surakarta

Logo Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.png
Cagar budaya Indonesia


Kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Peringkat Nasional
No. Regnas CB.1239
Lokasi
keberadaan
Kota Surakarta
No. SK 208/Thou/2017
Tanggal SK iii Agustus 2017
Tingkat SK Menteri
Pemilik Kesunanan Surakarta Hadiningrat
Koordinat


7°34′42″S
110°49′32″E


 / 

7.5782384°S 110.8255062°Eastward
 /
-seven.5782384; 110.8255062


Keraton Surakarta Hadiningrat di Jawa

Keraton Surakarta Hadiningrat

Keraton Surakarta Hadiningrat

Lokasi Keraton Surakarta Hadiningrat di Surakarta, Jawa Tengah

Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya

Keraton Surakarta Hadiningrat
atau
Keraton Surakarta
(bahasa Jawa:
ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦯꦹꦫꦏꦂꦡꦲꦢꦶꦤꦤꦶꦔꦿꦴꦠ꧀,

translit.



Karaton Suråkartå Hadiningrat

) adalah Istana resmi Kesunanan Surakarta Hadiningrat yang terletak di Kota Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana Ii pada tahun 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan pada tahun 1743. Keraton ini mempunyai pecahan yakni Keraton Yogyakarta Hadiningrat yang merupakan istana dari Kesultanan Yogyakarta, sehingga secara tradisional Dinasti Mataram diteruskan oleh dua kerajaan, yakni Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Total luas wilayah keseluruhan keraton surakarta mencapai 147 hektar, yakni meliputi seluruh surface area di dalam benteng Baluwarti, Alun-Alun Lor, Alun-Alun Kidul, Gapura Gladag, dan kompleks Masjid Agung Surakarta. Sementara luas dari kedhaton (inti keraton) mencapai 15 hektar. Walaupun Kesunanan Surakarta secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1945, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal susuhunan/sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesunanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Surakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesunanan, termasuk berbagai pemberian atau hadiah dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.

Keraton Surakarta juga menjadi salah satu elemen penting dalam penasehat pembangunan Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Sragen, Kabupaten Wonogiri, dan Kabupaten Klaten. Sebagai contoh yang paling besar adalah sebagai penasehat pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Surakarta dan KRL Jogja-Solo.

Sejarah

[sunting
|
sunting sumber]

Kesultanan Mataram yang kacau akibat pemberontakan Trunajaya pada tahun 1677 ibu kotanya oleh Sri Susuhunan Amangkurat 2 dipindahkan di Keraton Kartasura. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwana Two memegang tampuk pemerintahan, Mataram mendapat serbuan dari pemberontakan orang-orang Tionghoa yang mendapat dukungan dari orang-orang Jawa anti VOC tahun 1742, dan Mataram yang berpusat di Kartasura saat itu mengalami keruntuhannya. Kota Kartasura berhasil direbut kembali berkat bantuan Adipati Cakraningrat IV, penguasa Madura Barat (Bangkalan) yang merupakan sekutu VOC, namun keadaannya sudah rusak parah. Sri Susuhunan Pakubuwana II yang menyingkir ke Ponorogo, kemudian memutuskan untuk membangun istana baru di Desa Sala sebagai ibu kota Mataram yang baru.

Bangunan Keraton Kartasura yang sudah hancur dan dianggap “tercemar”. Sri Susuhunan Pakubuwana II lalu memerintahkan Tumenggung Hanggawangsa bersama Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan Belanda, J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru. Untuk itu dibangunlah keraton baru berjarak xx km ke arah tenggara dari Kartasura, tepatnya di Desa Sala, tidak jauh dari Bengawan Solo. Untuk pembangunan keraton ini, Sri Susuhunan Pakubuwana 2 membeli tanah seharga
selaksa
keping emas yang diberikan kepada
akuwu
(lurah) Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gedhe Sala. Saat keraton dibangun, Ki Gedhe Sala meninggal dan dimakamkan di area keraton.

Setelah istana kerajaan selesai dibangun dan ditempati, nama Desa Sala kemudian diubah menjadi
Surakarta Hadiningrat. Kata
sura
dalam Bahasa Jawa berarti “keberanian” dan
karta
berarti “makmur”; dengan harapan bahwa Surakarta menjadi tempat dimana penghuninya adalah orang-orang yang selalu berani berjuang untuk kebaikan serta kemakmuran negara dan bangsa. Dapat pula dikatakan bahwa nama
Surakarta
merupakan kebalikan kata dari Kartasura. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Sri Susuhunan Pakubuwana II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kesunanan Surakarta.

Arsitektur

[sunting
|
sunting sumber]

Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah KGPH. Mangkubumi (kelak bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-1745, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana X yang bertakhta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.

Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks
Alun-Alun Lor/Utara, Kompleks
Pagelaran Sasana Sumewa, Kompleks
Siti Hinggil Lor/Utara, Kompleks
Kamandungan Lor/Utara, Kompleks
Sri Manganti Lor/Utara, Kompleks
Kedhaton, Kompleks
Kamagangan
dan
Sri Manganti Kidul/Selatan, Kompleks
Kamandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks
Siti Hinggil Kidul/Selatan dan
Alun-Alun Kidul/Selatan. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan
baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari
Kamandungan Lor/Utara sampai
Kamandungan Kidul/Selatan.


Kompleks Alun-Alun Lor/Utara

[sunting
|
sunting sumber]

Bagian dalam Pagelaran Sasana Sumewa.

Kompleks ini meliputi Gapura
Gladag,
Pangurakan,
Alun-Alun Lor, dan Masjid Agung Surakarta.
Gladag
yang sekarang dikenal dengan Perempatan Gladag di Jalan Slamet Riyadi Surakarta. Pada zaman dahulu,
space area
di sekitar
Gladag
dan gapura kedua dipakai sebagai tempat menyimpan binatang hasil buruan sebelum
digladag
(dipaksa) dan disembelih di tempat penyembelihan. Wujud arsitektur pada kawasan
Gladag
ini mengandung arti simbolis ajaran langkah pertama dalam usaha seseorang untuk mencapai tujuan ke arah
Manunggaling Kawula-Gusti
(Bersatunya Rakyat dengan Raja). Alun-alun merupakan tempat diselenggarakannya upacara-upacara kerajaan yang melibatkan rakyat. Selain itu alun-alun menjadi tempat bertemunya Sri Sunan dan rakyatnya. Di pinggir alun-alun ditanami sejumlah pohon beringin. Di tengah-tengah alun-alun terdapat dua batang pohon beringin (Ficus benjamina; Famili
Moraceae) yang diberi pagar. Kedua batang pohon ini disebut
Waringin Sengkeran
(harifah: beringin yang dikurung) yang diberi nama
Dewadaru
dan
Jayadaru.

Di sebelah barat alun-alun utara berdiri Masjid Agung Surakarta. Masjid raya ini merupakan masjid resmi kerajaan dan didirikan oleh Sri Susuhunan Pakubuwana III pada tahun 1750 (Kesunanan Surakarta merupakan kerajaan Islam). Bangunan utamanya terdiri dari atas serambi dan masjid induk. Di sebelah utara alun-alun terdapat bangsal kecil yang disebut
Bale Pewatangan
dan
Bale Pekapalan. Tempat ini pada zaman dahulu dipergunakan oleh prajurit dan kudanya untuk beristiahat setelah berlatih. Beberapa balai lain terdapat disekitar alun-alun yang dipergunakan untuk karyawan-karyawan keraton menempatkan kudanya. Tempat menambatkan kuda sudah tidak dapat dijumpai lagi saat ini. Bangunan-bangunan lain di sekeliling alun-alun sekarang dipergunakan sebagai kios penjual cenderamata. Di sebelah barat daya
Alun-Alun Lor
(ke arah Pasar Klewer) dan sebelah timur laut (ke arah Pasar Beteng) terdapat dua gapura besar yang berfungsi sebagai pintu keluar dari
Alun-Alun Lor
yang bernama
Gapura Klewer
dan
Gapura Batangan.


Kompleks Sasana Sumewa dan Kompleks Siti Hinggil Lor/Utara

[sunting
|
sunting sumber]

Tratag Bangsal Siti Hinggil Lor yang disebut Sasana Sewayana.

Bangsal Witana dengan Krobongan Bale Manguneng di tengahnya.

Sasana Sumewa
merupakan bangunan utama terdepan di Keraton Surakarta. Tempat ini pada zamannya digunakan sebagai tempat untuk menghadap para punggawa (pejabat menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Di kompleks ini terdapat sejumlah meriam diantaranya diberi nama
Kyai Pancawura
atau
Kyai Sapu Jagad. Meriam ini dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Di sebelah selatan
Sasana Sumewa
terdapat kompleks
Siti Hinggil.

Sasana Sumewa
sendiri adalah bangunan yang berada di sebelah selatan pohon
Waringin Gung
dan
Waringin Binatur. Bangunan besar ini memiliki citra konstruksi atap kampung
tridenta
(atap kampung berjajar tiga dengan bagian tengah lebih kecil) yang disangga oleh kolom tembok persegi berjumlah 48 buah. Atap dan langit-langit bangunan ini terbuat dari bahan seng. Sedangkan lantai bangunan ini ditinggikan dan diplester. Sesuai dengan namanya (pagelaran
= area terbuka;
sasana
= tempat = rumah;
sumewa
= menghadap), fungsi
Sasana Sumewa
pada zaman dulu adalah sebagai tempat menghadap Pepatih Dalem, para Bupati, dan atau Bupati Anom kebawah golongan luar. Kegiatan menghadap Sri Sunan tersebut biasanya dilakukan pada saat-saat seperti hari besar
Bagda Mulud
(yang diselenggarakan tiga kali dalam setahun), ulang tahun Sri Sunan, peringatan naik takhta, dan sebagainya.

Siti Hinggil
merupakan suatu kompleks yang dibangun di atas tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Kompleks ini memiliki dua gerbang, satu disebelah utara yang disebut dengan
Kori Wijil
dan satu disebelah selatan yang disebut dengan
Kori Renteng. Pada salah satu anak tangga Siti Hinggil sisi utara terdapat sebuah batu yang dahulu digunakan sebagai tempat pemenggalan kepala para tersangka yang menerima hukuman mati, disebut dengan
Sela Pamecat.

Bangunan utama di kompleks
Siti Hinggil
ini adalah
Sasana Sewayana
yang digunakan para pembesar dalam menghadiri upacara kerajaan. Selain itu terdapat pula
Bangsal Manguntur Tangkil. Bangsal ini berfungsi sebagai tempat singgasana takhta Sri Sunan saat menerima para pimpinan. Kemudian di sebelah selatan terdapat
Bangsal Witana, tempat persemayaman pusaka kebesaran kerajaan selama berlangsungnya upacara. Bangsal yang terakhir ini memiliki suatu bangunan kecil di tengah-tengahnya yang disebut dengan
Krobongan Bale Manguneng, tempat persemayaman pusaka keraton
Kangjeng Nyai Sentomi, sebuah meriam yang konon dirampas oleh tentara Mataram dari VOC saat menyerbu Batavia. Di sebelah timur
Sasana Sewayana
dan
Witana, terdapat dua bangunan bangsal, yaitu
Bangsal Gandekan Tengen
di bagian utara, dan
Bangsal Angun-Angun
di bagian selatan. Sisi luar timur-selatan-barat kompleks
Siti Hinggil
merupakan jalan umum yang dapat dilalui oleh masyarakat yang disebut dengan
Supit Urang
(capit udang).


Kompleks Kamandungan Lor/Utara

[sunting
|
sunting sumber]

Kori Brajanala Lor dilihat dari Kori Kamandungan Lor.

Kawasan Kori Kamandungan Lor dan Balerata, serta Panggung Sangga Buwana di sisi selatannya.

Kori Brajanala
atau
Kori Gapit
merupakan pintu gerbang masuk utama dari arah utara ke dalam halaman
Kamandungan Lor. Gerbang ini sekaligus menjadi gerbang cepuri (kompleks dalam istana yang dilingkungi oleh dinding istana yang disebut
baluwarti) yang menghubungkan Jalan Supit Urang dengan halaman dalam istana. Gerbang ini dibangun oleh Sri Susuhunan Pakubuwana III dengan gaya
Limasan Semar Tinandu.
Semar Tinandu
merupakan gerbang yang memiliki atap trapesium, seperti joglo, tanpa tiang dan hanya ditopang oleh dinding yang menjadi pemisah satu kompleks dengan kompleks berikutnya.

Pada sisi kanan dan kiri (barat dan timur) dari
Kori Brajanala
di sebelah dalamnya terdapat dua
Bangsal Wisamarta
sebagai tempat jaga pengawal istana. Selain itu di timur gerbang ini terdapat menara lonceng. Di tengah-tengah kompleks ini hanya terdapat halaman kosong. Bangunan yang terdapat dalam kompleks ini hanya di bagian tepi halaman. Dari halaman ini pula dapat dilihat sebuah menara megah yang disebut dengan
Panggung Sangga Buwana
yang terletak di kompleks berikutnya, Kompleks
Sri Manganti.

Di atas
Kori Kamandungan Lor/Utara terdapat gambar bendera merah putih (gendera gula klapa) dan bermacam senjata perang, di mana di tengah terdapat gambar daun kapas, dan di atasnya terdapat gambar mahkota; gambar tersebut secara keseluruhan disebut
Sri Makutha Raja, yang merupakan simbol dari Keraton Mataram sebagai pendahulunya. Di sebelah kiri dan kanannya terdapat
Balerata, yaitu los-los sebagai tempat parkir kereta-kereta dan kendaraan-kendaraan yang akan digunakan oleh Sri Sunan. Tempat ini juga berfungsi sebagai Museum Kereta Keraton.


Kompleks Sri Manganti Lor/Utara

[sunting
|
sunting sumber]

Kori Sri Manganti dan Panggung Sangga Buwana.

Untuk memasuki kompleks ini dari sisi utara harus melalui sebuah pintu gerbang yang disebut dengan
Kori Kamandungan Lor. Di depan sisi kanan dan kiri gerbang yang bernuansa warna biru dan putih ini terdapat dua arca. Di sisi kanan dan kiri pintu besar ini terdapat cermin besar dan diatasnya terdapat suatu hiasan yang terdiri dari senjata dan bendera yang ditengahnya terdapat lambang kerajaan. Hiasan ini disebut dengan
Gendera Gula Klapa.

Nama
Kori Sri Manganti
berasal dari kata
sri
yang berarti raja dan
manganti
yang berarti menunggu, jadi kawasan ini berfungsi sebagai tempat para tamu menunggu giliran untuk bisa bertemu atau menghadap raja.[1]
Di halaman
Sri Manganti
terdapat dua bangunan utama yaitu
Bangsal Marakata
di sebelah barat dan
Bangsal Marcukundha
di sebelah timur.

Pada zamannya
Bangsal Marakata
digunakan untuk menghadap para pegawai menengah ke atas dengan pangkat
Bupati Lebet
ke atas. Tempat ini pula menjadi tempat penerimaan kenaikan pangkat para pejabat senior. Sekarang tempat ini digunakan untuk latihan menari dan mendalang. Kata
marakata
atau
asmarakata
sendiri memiliki arti sebagai
dhawuh kang nengsemake, atau perkataan yang menyenangkan.

Bangsal Marcukundha
pada zamannya digunakan untuk menghadap para opsir prajurit, untuk kenaikan pangkat pegawai dan pejabat yunior, serta tempat untuk menjatuhkan vonis hukuman bagi kerabat Sri Sunan. Sekarang tempat ini untuk menyimpan
Krobongan Madirengga, sebuah tempat untuk upacara sunat/khitan para putra Sri Sunan. Selanjutnya, di sebelah timur bangunan tersebut terdapat sebuah ruang yang menghadap ke barat, yang digunakan sebagai
Kantor Wedana.

Di sisi barat daya
Bangsal Marcukundha
terdapat sebuah menara bersegi delapan yang disebut dengan
Panggung Sangga Buwana. Menara yang memiliki tinggi sekitar tiga puluhan meter ini sebenarnya terletak di dua halaman sekaligus, halaman
Sri Manganti
dan halaman
Kedhaton. Namun pintu utamanya terletak di halaman
Kedhaton. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk mengawasi tentara Belanda yang ada di Benteng Vastenburg. Selain itu, bangunan ini memiliki fungsi spiritual yaitu sebagai tempat raja bermeditasi serta untuk lokasi bertemunya raja dengan Kangjeng Ratu Kencana Hadisari alias Ratu Laut Selatan.[ii]
Bangunan ini sempat terbakar pada 19 November 1954, lalu dibangun kembali dan selesai pada thirty September 1959.[3]

Kompleks Kedhaton

[sunting
|
sunting sumber]

Bangsal Maligi tampak dari arah timur.

Bagian dalam bangunan Pendhapa Ageng Sasana Sewaka, dilihat dari arah Bangsal Maligi.

Bagian dalam bangunan Sasana Handrawina.

Kawasan Taman Sari Bandengan.

Kori Sri Manganti Lor
menjadi pintu untuk memasuki kompleks
Kedhaton
dari utara. Pintu gerbang yang dibangun oleh Sri Susuhunan Pakubuwana IV pada tahun 1792 ini disebut juga dengan
Kori Ageng. Bangunan ini memiliki kaitan erat dengan
Panggung Sangga Buwana
secara filosofis. Pintu yang memiliki gaya Limasan
Semar Tinandu
ini digunakan untuk menunggu tamu-tamu resmi kerajaan. Bagian kanan dan kiri pintu ini memiliki cermin dan sebuah ragam hias di atas pintu. Halaman
Kedhaton
dialasi dengan pasir hitam dari pantai selatan dan ditumbuhi oleh berbagai pohon langka, antara lain 76 batang pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki; Famili
Sapotaceae). Selain itu halaman ini juga dihiasi dengan patung-patung bergaya Eropa. Kompleks ini memiliki bangunan utama, di antaranya adalah
Pendhapa Ageng Sasana Sewaka,
Bangsal Maligi,
Dalem Ageng Prabasuyasa,
Sasana Handrawina, dan
Panggung Sangga Buwana.

Pendhapa Ageng Sasana Sewaka
aslinya merupakan bangunan peninggalan pendhapa Keraton Kartasura. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwana XII tepatnya pada tahun 1985 tempat ini mengalami musibah kebakaran. Di bangunan ini pula Sri Sunan bertakhta dalam upacara-upacara kebesaran kerajaan, seperti saat garebeg, ulang tahun raja dan peringatan hari kenaikan takhta raja. Di sebelah barat pendhapa ini terdapat
Sasana Parasdya, sebuah pringgitan. Di sebelah barat
Sasana Parasdya
terdapat
Dalem Ageng Prabasuyasa. Tempat ini merupakan bangunan inti dan terpenting dari seluruh Keraton Surakarta Hadiningrat. Di tempat inilah disemayamkan pusaka-pusaka dan juga takhta Sri Sunan yang menjadi simbol kerajaan. Di lokasi ini pula Sri Sunan bersumpah ketika mulai bertakhta sebelum upacara pemahkotaan dihadapan khalayak di
Siti Hinggil Lor.

Bangunan berikutnya adalah
Sasana Handrawina. Tempat ini digunakan sebagai tempat perjamuan makan resmi kerajaan. Kini bangunan ini biasa digunakan sebagi tempat seminar maupun
gala dinner. Pada sisi tenggara
Sasana Handrawina
terdapat bangunan
Sasana Pustaka
yang menjadi tempat penyimpanan arsip dan naskah keraton. Di depan
Sasana Handrawina
(dari arah selatan) terdapat tiga bangunan kecil yaitu
Bangsal Bujana
(tempat menjamu pengikut tamu agung),
Bangsal Pradangga Kidul/Bangsal Musik
(untuk musik atau orkes) dan
Bangsal Pradangga Lor
(tempat memainkan gamelan). Bangunan utama lainnya adalah
Panggung Sangga Buwana
atau
Reksa Tengara.[4]
Menara ini digunakan sebagai tempat meditasi Sri Sunan sekaligus untuk mengawasi Benteng Vastenburg milik Belanda yang berada tidak jauh dari istana. Bangunan yang memiliki lima lantai ini juga digunakan untuk melihat posisi bulan untuk menentukan awal suatu bulan.
Panggung Sangga Buwana
didirikan tahun 1777 saat pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana 3 . Pembangun
Panggung Sangga Buwana
adalah Kyai Baturetna, seorang tukang batu, dan Kyai Nayawreksa, seorang tukang kayu (kalang) pada saat itu. Di atas atap menara terdapat penunjuk arah angin berbentuk seseorang menaiki seekor naga yang sekaligus sebagai sengkala
Naga Muluk Tinitihan Janma. Arti sengkala tersebut adalah tahun 1708 Jawa, tahun pembangunan menara.

Bagian timur kompleks
Kedhaton
merupakan sebuah bangunan yang memanjang utara-selatan dengan halaman luas di tengah-tengahnya. Di masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana XII pada tahun 1963, bangunan tersebut difungsikan sebagai Museum Keraton Surakarta. Di sisi selatan halaman museum terdapat sebuah sumur bernama
Sumur Sanga. Sebelum dijadikan museum, kawasan ini pernah berfungsi sebagai tempat tinggal putra mahkota dan kantor-kantor administrasi kerajaan. Di sebelah selatan-tenggara museum terdapat kompleks
Gandarasan
yang merupakan dapur istana.

Di sebelah barat kawasan
Kedhaton
terdapat beberapa kompleks bangunan antara lain
Sasana Putra,
Sasana Narendra
(kediaman resmi Sri Susuhunan Pakubuwana Thirteen),
Keputren, serta
Keraton Kilen
(istana barat) atau secara lengkap bernama
Keraton Kilen ing Prabasana
yang dibangun pada masa Sri Susuhunan Pakubuwana X. Area di bagian barat kawasan
Kedhaton
tersebut merupakan tempat tertutup bagi masyarakat umum dan jarang terpublikasi sehingga tidak banyak yang mengetahui kepastian sesungguhnya. Kawasan ini merupakan tempat tinggal resmi Sri Sunan dan keluarga kerajaan yang masih digunakan hingga sekarang. Di belakang tempat tinggal keluarga Sri Sunan, terdapat
Taman Sari Bandengan. Pada kawasan tersebut, terdapat kolam buatan dan di tengah-tengahnya berdiri sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat meditasi. Di pinggiran kolam, terdapat sebuah tempat yang berisi batu meteor keramat serta tangga dari batu untuk menuju ke bangunan tempat meditasi. Di antara taman air dan bangunan tempat keluarga Sri Sunan, terdapat bukit yang dipenuhi rerumputan yang diatasnya berdiri bangunan paviliun kecil dengan terasnya. Tempat ini disebut
Gunungan
dan dipakai sebagai tempat istirahat Sri Sunan.


Kompleks Kamagangan, Sri Manganti Kidul/Selatan, Kamandungan Kidul/Selatan, serta Siti Hinggil Kidul/Selatan

[sunting
|
sunting sumber]

Dari Kompleks
Kedhaton
ke arah selatan, terdapat
Kori Sri Manganti Kidul
yang merupakan akses utama untuk menuju Kompleks
Magangan
atau
Kamagangan. Di tempat ini terdapat sebuah pendhapa di tengah-tengah halaman yang disebut
Bangsal Magangan, yang digunakan sebagai tempat pelatihan para para calon pegawai kerajaan. Di sekeliling halaman ini ada kantor-kantor dan bangunan-bangunan untuk menempatkan perlengkapan prajurit, seperti keris, pedang, bedil, pistol, dan pakaian seragam prajurit untuk hari-hari besar kerajaan. Kompleks berikutnya,
Sri Manganti Kidul/Selatan dan
Kamandungan Kidul/Selatan hanyalah berupa halaman yang digunakan saat upacara pemakaman Sri Sunan maupun permaisuri. Di sekitar
Kori Kamandungan Kidul
adalah pelataran yang bersifat lebih terbuka untuk umum.

Kompleks terakhir,
Siti Hinggil Kidul/Selatan, memiliki sebuah bangunan kecil. Kini kompleks ini digunakan untuk memelihara pusaka keraton yang berupa kerbau albino keturunan
Kyai Slamet.
Kori Brajanala Kidul/Selatan memberikan akses ke kompleks
Siti Hinggil Kidul.
Siti Hinggil Kidul
sendiri adalah suatu kompleks bangunan pendhapa terbuka, yang dikelilingi oleh barisan pagar besi pendek. Pada zaman dahulu di sekitarnya terdapat empat meriam, dua di antaranya kemudian diambil pemerintah untuk diletakkan di AMN Magelang. Berbeda dengan kompleks
Siti Hinggil Lor
yang megah, kompleks
Siti Hinggil Kidul
dan bangunan maupun kori lain di sebelah selatan keraton berbentuk lebih sederhana dan dibuat dari material yang lebih sederhana pula.

Di sebelah selatan
Siti Hinggil Kidul
dapat dijumpai
Alun-Alun Kidul/Selatan, alun-alun ini bersifat lebih pribadi dibandingkan
Alun-Alun Lor/Utara.
Alun-Alun Kidul
dikelilingi oleh tembok benteng yang tinggi dan di sekitarnya terdapat beberapa rumah bangsawan dan juga
wong cilik
yang mencari nafkah di area tersebut. Pada bagian ini, terdapat dua buah bangunan yang salah satunya sebagai tempat disemayamkannya sebuah gerbong kereta yang digunakan untuk membawa jenazah Sri Susuhunan Pakubuwana X menuju ke pemakaman Astana Imogiri.

Tembok yang mengelilingi alun-alun mempunyai pintu gerbang di tengah ujung selatan yang bernama
Gapura Gading. Gapura ini berbentuk gerbang candi bentar, seperti halnya
Gapura Gladag. Pada tahun 1932, Sri Susuhunan Pakubuwana X, menambahkan pintu gerbang di sebelah selatan
Gapura Gading, dengan bentuk mengikuti bentuk gerbang masuk
Alun-Alun Kidul
dari arah barat dan timur. Ketiga gerbang di
Alun-Alun Kidul
ini dikenal dengan sebutan
Tri Gapurendra.

Warisan Budaya

[sunting
|
sunting sumber]

Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton Surakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Di antaranya adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral, musik, dan pusaka. Upacara adat yang terkenal adalah upacara
Grebeg, upacara
Sekaten, dan upacara
Malem Siji Sura
(one Sura). Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini, hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi.

Grebeg

[sunting
|
sunting sumber]

Upacara Garebeg
atau
Grebeg
diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan
Mulud
(bulan ketiga), tanggal satu bulan
Sawal
(bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan
Besar
(bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut Sri Sunan mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah atas kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan
Hajad Dalem, berupa
pareden/gunungan
yang terdiri dari
gunungan kakung
dan
gunungan estri
(lelaki dan perempuan).

Gunungan kakung
berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil.
Gunungan estri
berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.

Sekaten

[sunting
|
sunting sumber]

Sekaten
merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari untuk memperingati kelahahiran Nabi Muhammad. Konon asal usul upacara ini sudah ada sejak Kesultanan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata
sekaten
berasal dari istilah
credo
dalam agama Islam,
Syahadatain.
Sekaten
dimulai dengan keluarnya dua perangkat
Gamelan Sekati,
Kyai Gunturmadu
dan
Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan
Mulud
dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Bahasa Jawa:
ditabuh) menandai perayaan
sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya
Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara
sekaten
yang sesungguhnya.

Kirab Mubeng Beteng atau Malam Satu Sura

[sunting
|
sunting sumber]

Malam 1 Sura (1 Muharram) dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut kalender Jawa. Malam 1 Sura jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya. Di Keraton Surakarta upacara ini diperingati dengan
Kirab Mubeng Beteng
(Perarakan Mengelilingi Benteng Keraton). Upacara ini dimulai dari kompleks
Kamandungan Lor
melalui
Kori Brajanala Lor
kemudian mengitari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman
Kamandungan Lor. Dalam prosesi ini pusaka keraton menjadi bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar keraton, para pegawai dan akhirnya masyarakat. Suatu yang unik adalah di barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino keturunan kerbau pusaka kesayangan Sri Susuhunan Pakubuwana Two,
Kyai Slamet, yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.


Pusaka (heirloom) dan Tari-Tarian Sakral

[sunting
|
sunting sumber]

Keraton Surakarta memiliki sejumlah koleksi pusaka kerajaan di antaranya berupa singgasana Sri Sunan, perangkat musik gamelan dan koleksi senjata. Di antara koleksi gamelan adalah
Kyai Guntursari
dan
Kyai Gunturmadu
yang hanya dimainkan/dibunyikan pada saat upacara
sekaten. Selain memiliki pusaka Keraton Surakarta juga memiliki tari-tarian khas yang hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu. Sebagai contoh tarian sakral adalah Tari
Bedhaya Ketawang
yang hanya dipentaskan pada saat pemahkotaan dan hari peringatan kenaikan takhta Sri Sunan.

Pemangku Adat Jawa Surakarta

[sunting
|
sunting sumber]

Susuhunan Pakubuwana XIII saat melakukan pemberian gelar kehormatan kepada beberapa warga negara asing di Sasana Narendra, Kompleks Keraton Surakarta.

Semula Keraton Surakarta merupakan Lembaga Istana (Regal House) yang mengurusi Sri Sunan dan keluarga kerajaan disamping menjadi pusat pemerintahan Kesunanan Surakarta. Setelah tahun 1946 peran Keraton Surakarta tidak lebih hanya sebagai Pemangku Adat Jawa khususnya garis/gaya Surakarta. Begitu pula Sri Sunan tidak lagi berperan dalam urusan kenegaraan sebagai seorang raja dalam artian politik melainkan sebagai Baginda Yang Dipertuan Pemangku Takhta Adat, simbol dan pemimpin informal kebudayaan. Fungsi keraton pun berubah menjadi pelindung dan penjaga identitas budaya Jawa khususnya gaya Surakarta. Walaupun dengan fungsi yang terbatas pada sektor informal namun Keraton Surakarta tetap memiliki kharisma tersendiri di lingkungan masyarakat Jawa khususnya di bekas wilayah Kesunanan Surakarta (Kota Surakarta, Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Sukoharjo). Selain itu Keraton Surakarta juga memberikan gelar kebangsawanan kehormatan (honoriscausa) pada mereka yang mempunyai perhatian kepada budaya Jawa khususnya budaya Jawa gaya Surakarta maupun perhatian dan sumbangsih mereka terhadap eksistensi Keraton Surakarta, di samping mereka yang berhak karena hubungan darah maupun karena posisi mereka sebagai pegawai (abdi dalem) keraton.

Filosofi dan Mitologi seputar Keraton

[sunting
|
sunting sumber]

Setiap nama bangunan maupun upacara, bentuk bangunan maupun benda-benda upacara, letak bangunan, begitu juga prosesi suatu upacara dalam keraton memiliki makna atau arti filosofi masing-masing. Namun sungguh disayangkan makna-makna tersebut sudah tidak banyak yang mengetahui dan kurang begitu mendapat perhatian.

Cermin besar di kanan dan kiri
Kori Kamadungan
mengadung makna introspeksi diri. Nama
Kamandungan
sendiri berasal dari kata
mandung
yang memiliki arti berhenti. Nama
Marcukundha
berasal dari kata
marcu
yang berarti api dan
kundha
yang berarti wadah/tempat, sehingga kata
Marcukundha
berarti melambangkan suatu doa/harapan. Menara
Panggung Sangga Buwana
adalah simbol
lingga
dan
Kori Sri Manganti
di sebelah baratnya adalah simbol
yoni. Simbol Lingga-Yoni dalam masyarakat Jawa dipercaya sebagai suatu simbol kesuburan. Dalam upacara
garebeg
dikenal dengan adanya sedekah Sri Sunan yang berupa gunungan. Gunungan tersebut melambangkan sedekah yang bergunung-gunung. Selain itu Keraton Surakarta juga memiliki mistik dan mitos serta legenda yang berkembang di tengah masyarakat. Sebagai salah satu contoh adalah kepercayaan sebagian masyarakat dalam memperebutkan gunungan saat
garebeg. Mereka mempercayai bagian-bagian gunungan itu dapat mendatangkan tuah berupa keuangan yang baik maupun yang lainnya.

Selain itu ada legenda mengenai usia Nagari Surakarta Hadiningrat. Ketika istana selesai dibangun, muncul sebuah ramalan bahwa Kesunanan Surakarta hanya akan berjaya selama dua ratus tahun. Setelah dua ratus tahun maka kekuasaan Sri Sunan hanya akan selebar mekarnya sebuah payung (kari sak megare payung). Legenda ini pun seakan mendapat pengesahan dengan kenyataan yang terjadi. Apabila dihitung dari pembangunan dan penempatan istana secara resmi pada 1745, maka dua ratus tahun kemudian tepatnya pada tahun 1945 negara Indonesia merdeka dan kekuasaan Kesunanan benar-benar merosot. Setahun kemudian, pada 1946, Daerah Istimewa Surakarta (yang di dalamnya terdapat pemerintahan dan wilayah administratif Kesunanan Surakarta) dibekukan oleh pemerintah Indonesia karena saat itu terjadi kekacauan politik, dan pada akhirnya kekuasaan Sri Sunan hanya tinggal atas tanah adat serta masyarakat adat kerabat dekatnya saja.

Lihat Pula

[sunting
|
sunting sumber]

  • Kampung Baluwarti
  • Keraton Yogyakarta
  • Pura Mangkunegaran
  • Pura Pakualaman
  • Kota Surakarta
  • Kesunanan Surakarta
  • Daerah Istimewa Surakarta (1945-1946)

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]


  1. ^


    Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2016). “Keraton Surakarta: Kori Sri Manganti (Wawancara dengan KGPH. Puger)”.
    Youtube.com.





  2. ^


    Rifka Nilasari (2013),
    Morfosemantis Nama-nama Bangunan di Kompleks Keraton Surakarta, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, hlm. 88





  3. ^


    Chelin Indra Sushmita (2020). “Panggung Sangga Buwana Di Keraton Solo, Tempat Ketemu Ratu Kidul”.
    Solopos.com.





  4. ^


    Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2016). “Keraton Surakarta: Sangga Buwana (Wawancara dengan KGPH. Puger)”.
    Youtube.com.




  • Aart van Beek (1990).
    Images of Asia: “Life in the Javanese Kraton”. Singapore: Oxford University Printing. ISBN 979-497-123-v.



  • Periplus Edition Singapore (1997).
    Periplus Gamble Guide “Java Republic of indonesia”. Periplus Singapore.



  • Acara budaya dengan judul
    Pocung
    dalam episode
    Wewangunan Karaton Surakarta Hadiningrat
    disiarkan oleh JogjaTV [1] Diarsipkan 2010-01-29 di Wayback Car.

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]


  • Media terkait Keraton Surakarta Hadiningrat di Wikimedia Commons



Rumah Mewah Yang Baru Dibangun

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Surakarta_Hadiningrat

Read:  Kontraktor Pembangunan Rumah Potong Ayam

Check Also

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal Rencana Anggaran Biaya (RAB) Bangunan Tahun 2020 File Sofcopy Dalam …