Cerita Orang Bijak Yang Membangun Rumahnya Diatas Batu Karang

Cerita Orang Bijak Yang Membangun Rumahnya Diatas Batu Karang


Matius7:24-27
(24) “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (26) Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. (27) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”


Lukas half-dozen:46-49
(46) “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? (47) Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, (48) ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. (49) Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”



Perumpamaan: Rumah dan Fondasinya.

Tuhan Yesus memperhadapkan kepada kita dua kategori manusia, yakni orang yang bodoh dan orang yang bijaksana.





Persamaan dari keduanya adalah sama-sama mendengar firmanTuhan. Kesamaan itu diibaratkan sebagai hal mendirikan suatu rumah. Perbedaan dari keduanya ialah orang yang bijaksana melakukan firman Tuhan yang sudah didengarnya, sedangkan orang yang bodoh tidak melakukan firman yang sudah didengarnya.




Tuhan Yesus menunjukkan perbedaan itu pada perbedaan fondamen atau dasar di mana kedua rumah itu didirikan. Orang yang melakukan firman Tuhan diibaratkan sebagai orang yang menggali tanah dalam-dalam dan meletakan dasar rumah yang didirikannya itu di atas batu, sedangkan orang yang tidak melakukan firman Tuhan diibaratkan sebagai orang yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

Apa yang membuat orang yang membangun rumahnya di atas fondamen pasir itu disebut orang yang bodoh? Karena, r
umah yang dibangun di atas pasir tidak akan kokoh berdiri di atas bumi.





Dalam keadaan normal saja keadaan fisik bangunan rumah itu tidak akan tegak lurus seperti bangunan rumah yang dipancangkan pada fondamen batu. Apalagi bila hujan, angin, banjir, dan air bah melanda rumah itu, maka seketika  itu juga rumah itu rubuh dan mengalami kerusakan yang hebat. Jangankan itu, disenggol sedikit saja sudah ambruk.




Ini sama saja artinya dengan mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar, atau sia-sia saja, maka disebut bodohlah orang seperti ini. Sudah tahu rumahnya tidak akan kokoh tegak berdiri di atas pasir, tetap saja ia mendirikannya di atas pasir. Atau, sudah tahu tidak mungkin mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar, tetap saja ia pura-pura tidak tahu.

Dengan demikian
orang yang bodoh adalah orang yang tahu tapi tidak mau tahu. Salah satunya ialah
orang yang mendengar firman Tuhan tetapi tidak melakukannya, demikian kata Tuhan Yesus.




Atau dengan perkataan lain, seseorang sudah mendengar firman Tuhan, tetapi bodohnya, ia tidak melakukan firman Tuhan itu. Ia bukan tidak tahu, tapi tidak mau tahu atau mengacuhkannya.

Supaya Berbahagia!





Terkait dengan perumpamaan ini, kita mengingat pula perkataan Tuhan Yesus seperti tertulis dalam


Lukas xi:28:




Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya
.”


Ada dua perspektif kebahagiaan dari seruan ini:

pertama
, tentang hal Kerajaan Sorga (= bahagia karena dengan melakukan firman Tuhan ia masuk ke dalam Kerajaan Sorga),


Matius7:21-23

(21) Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

kedua
, terkait dengan kehidupan manusia itu sendiri selagi ia berada di dalam dunia (= bahagia karena dengan melakukan firman Tuhan ia dibahagiakan Allah selama ia hidup di dalam dunia).


Mazmur i:1-three

(1) Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, (2) tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. (3) Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.


Pengajaran Tuhan Yesus dalam “Dua Macam Dasar” yang disaksikan oleh Matius menekankan pada

perspektif yang kedua
, namun tidak lepas kaitannya dengan perspektif yang pertama, sebagaimana termuat juga di dalam perkataan Tuhan Yesus mengawali perumpamaannya ini dari versi
Lukas
vi:46:



“Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”

Read:  Bangun Rumah 50 Juta 2023

Di sini, kita member perhatian khusus kepada kebahagiaan di dalam dunia meski kemelut menghampiri kehidupan kita (perspektif kedua).


Bukan sedikit orang percaya merasa tertekan dengan seruan untuk mendengarkan, membaca dan terutama melakukan firman Tuhan. Seolah-olah hal ini hanyalah suatu kewajiban agama yang disangka sekadar untuk menunjukkan kesalehan hidup. Seruan ini juga bahkan dianggap sebagai suatu beban yang menambahi daftar kewajiban lainnya (ke gereja, ke kolom, ke ibadah kategorial, memberi persembahan, dan lain-lain). Sungguh disayangkan dan amatlah malang jika pemahaman ini berakar di hati orang-orang percaya.


Bila seruan ini adalah beban bagi kita, apakah ini untuk kepentingan Tuhan?


Ayub 22:3

Apakah ada manfaatnya bagi Yang Mahakuasa, kalau engkau benar, atau keuntungannya, kalau engkau hidup saleh?


Kita tidak membuat Tuhan menjadi untung karena kita melakukan firman-Nya dan kita tidak membuat Dia menjadi rugi karena kita tidak melakukan firman-Nya. Kita tidak membuat kuasa-Nya jadi berkurang karena kita tidak melakukan firman-Nya dan kita tidak membuat kuasa-Nya menjadi bertambah karena kita menjawab seruan-Nya ini. Ia tetap Allah dan Tuhan sebagaimana Ia Allah dan Tuhan dulu, sekarang, dan selama-lamanya.


Tuhan Yesus berkata:
“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:28)
. Artinya, tujuan dari seruan membaca, mendengarkan dan terutama melakukan firman Tuhan adalah “BERBAHAGIA”.





Orang yang menyambut seruan ini dan melaksanakannya akan berbahagia karenanya. Seruan ini tidak menghantar kita kepada kesusahan, kesedihan, penderitaan, malapetaka, dan lain sebagainya, melainkan hendak membawa kita kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.




Lalu, bebankah bagi kita, bila apa yang kita sebut ‘beban’ itu ternyata adalah kebahagiaaan kita? Maka, siapa yang rugi bila kita tidak melakukannya? Dan siapakah yang diuntungkan bila kita melakukannya? Bukan Tuhan, bukan orang lain, tapi diri kita sendiri!


Yeremia seven:19

Hati-Kukah sebenarnya yang mereka sakiti, demikianlah firman TUHAN, bukankah hati mereka sendiri, sehingga mereka menjadi malu?




Ketahanan hidup

Dalam perumpamaan-Nya, Tuhan Yesus memperingatkan kepada kita akan adanya angin, hujan, banjir, dan air bah yang pada suatu waktu akan menimpa rumah yang berdiri di atas bumi ini.





Ini berarti, selama kita hidup di dalam dunia ini, kita tetap akan selalu beroleh waktu untuk bertemu dengan berbagai kenyataan yang mengganggu dan dapat menggoyahkan kenyamanan hidup kita. Itu pasti.




Tuhan Yesus tidak menjanjikan hal itu menjadi tidak ada bagi kita. Namun, karena kasih-Nya kepada orang-orang yang menaruh percaya kepada-Nya, Tuhan Yesus memperingatkan akan adanya keadaan bahaya itu sekaligus menyingkapkan rahasia bagaimana kita dapat melaluinya.



Dengan ini kita harus mengoreksi suatu prasangka yang seringkali membersit di benak kita, bahwa Tuhan tidak peduli terhadap pergumulan kita. Sesungguhnya, Ia sudah lebih dahulu peduli sebelum kita mengharapkan kepedulian-Nya.





Perhatikanlah, betapa baiknya Tuhan itu, Ia menyampaikan kepada kita bagaimana kita dapat bertahan hidup di dalam dunia yang penuh dengan masalah ini. Betapa Tuhan kita, Yesus Kristus, menginginkan kita menjadi orang-orang yang tetap tegak berdiri dan kokoh saat “hujan, angin, banjir dan air bah” menerpa kehidupan kita.




Tuhan Yesus tidak ingin kita mengalami kejatuhan dan menjadi rusak. Tuhan Yesus menginginkan kita memiliki daya tahan, dan bukannya tidak berdaya dalam menjalani hidup. Tuhan Yesus ingin kita dapat melewati segala persoalan hidup dengan berkemenangan.




Caranya? Jangan hanya membaca dan mendengar firman Tuhan, tetapi lakukanlah apa yang sudah dibaca dan didengarkan itu!



Seperti apa kira-kira contohnya? Mari kita simak kisah Bpk. Poltak dan keluarganya.

Pak Poltak tidak lagi dapat bekerja seperti biasa karena menderita sakit. Ia adalah tulang punggung keluarganya. Pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari bagi keluarganya, yakni ia, isteri dan kedua anaknya yang masih bersekolah, biasanya dipenuhi dari hasil upah kerja Pak Poltak setiap minggunya. Sekarang mereka membutuhkan biaya tambahan untuk pengobatan sakitnya. Keadaan menjadi semakin sulit bagi Pak Poltak dan keluarganya.

Ibu Inul, isteri Pak Poltak, adalah seorang isteri yang bijaksana. Sedikitpun ia tidak memandang keadaan suaminya adalah beban tambahan bagi kehidupan rumah tangga mereka. Ia trampil melayani suaminya dan kedua anaknya dengan apa yang mereka punyai tanpa keluh kesah. Tidak ada ketegangan terlihat di raut wajah suami isteri itu. Keadaan tampak seperti biasa-biasa saja. Ibu Inul pun tetap setia menghadiri ibadah jemaat, meski seringkali pundi persembahan disambutnya hanya dengan senyuman penuh arti. Pembawa pundi pun paham dan melewatkan pundi persembahan itu darinya.

Bagaimana mereka bisa setenang itu? Pak Poltak menjawab, “Siapa yang ingin menderita sakit? Semua orang ingin sehat dan kuat. Saya pun demikian. Namun, kenyataannya kini saya harus menderita sakit. Mungkin ada yang bertanya, apa yang saya cemaskan? Pertanyaan ini lumrah, sebab sebagai manusia biasa kecemasan selalu menghinggapi hati kita tatkala sesuatu menjadi tidak pasti di dalam hidup kita. Jawabnya, jika saya harus cemas, maka yang saya cemaskan bukan diriku sendiri, bukan sakitku ini, melainkan isteri dan kedua anakku, sebab kini saya tidak dapat lagi bekerja seperti biasa.

Lalu, jika orang bertanya bagaimana kami dapat tetap tenang di tengah keadaan seperti ini? Firman Tuhan yang sudah kami baca dan dengar, itulah yang terus kami ingat di pikiran kami. Di tengah badai Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk tenang, kami pun sedang belajar untuk melakukan itu dengan tetap tenang. Tuhan Yesus pun berkata agar murid-murid-Nya tetap percaya, kami pun sedang belajar melakukannya, yakni percaya. Tuhan Yesus berkata, jangan khawatir, maka kami sedang belajar untuk melakukannya, karena Ia juga berkata bahwa Bapa memelihara hidup kami.

Bukan saya yang menghidupkan isteri dan kedua anak saya. Saya hanyalah alat di tangan-Nya untuk memelihara keluarga ini. Maka, bila saya menjadi tidak berdaya, itu tidak akan memengaruhi kehidupan kami, sebab Ia akan tetap setia melakukan janji-Nya untuk memelihara kami. Bukankah Tuhan Yesus juga mengatakan hal ini kepada Rasul Paulus saat ia sedang menderita suatu penyakit, bahwa justru dalam kelemahan kita kuasa-Nya menjadi sempurna. Firman-Nya ini pula yang sedang kami kerjakan saat ini. Kami sedang memberi ruang bagi Tuhan Yesus untuk mengerjakan kuasa-Nya dalam hidup kami. Sebab, ketika kita dalam keadaan kuat, terkadang kita mengira bertahannya hidup kita karena kekuatan yang kita punyai itu.

Maka, sebaiknyalah bagi saya untuk menjadi lemah saat ini, supaya saya tidak memandang diri saya sebagai penyelamat kehidupan keluarga saya. Dan, adalah baik bagi saya menjadi tak berdaya saat ini agar isteri dan anak-anak saya belajar untuk tidak bergantung kepada saya. Kami memerlukan keadaan ini agar mata hati kami tertuju sepenuhnya kepada Sang Juruselamat yang sesungguhnya. Dialah yang memelihara hidup kami. Yang kami butuhkan saat ini adalah hati yang tetap percaya dan terus mengerjakan apa yang difirmankan-Nya.”





Tahukah kita, bahwa mengerjakan firman Tuhan itulah yang disebut tindakan iman. Saat iman itu dikerjakan atau saat firman itu dilakukan, maka kuasa firman itu pun nyata di dalam hidup orang yang melakukannya.



Kuasa Firman Tuhan

Hal membaca dan mendengar firman Tuhan ibaratnya barulah merupakan “ramuan rumah atau materi bangunan rumah kita”. Semakin banyak membaca dan mendengar firman Tuhan sama dengan semakin banyak pula “ramuan rumah” yang hendak kita bangun itu. Pada proses inilah iman timbul.



Roma 10:17

Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Semakin banyak firman Tuhan yang dibaca dan didengarkan, semakin banyak tahu, semakin luas dan dalam pula konsep iman seseorang. Akan tetapi ini barulah sebatas konsep: pengetahuan, pengenalan, pengertian, dan pemahaman akan firman Tuhan. Itu barulah sebatas ilmu (teologi) atau konsep iman Kristen atau baru sebatas wacana iman [baru pada tahap ucapan atau percakapan], belum pada tahap pelaksanaannya.



Apabila semua yang sudah diketahui, dikenal, dimengerti dan dipahami itu tidak dilakukan, maka pengetahuan tinggallah pengetahuan, pengenalan tinggallah pengenalan, pengertian tinggallah pengertian, dan pemahaman tinggallah pemahaman. Selagi itu belum diterapkan, maka sehebat apapun semua itu tidak berguna sama sekali.





Oleh sebab itu, Tuhan Yesus mengibaratkannya dengan orang yang membangun di atas pasir.  Selengkap bagaimanapun ramuan rumah yang sudah dikumpulkan, atau sehebat bagaimanapun kualitas ramuan rumah tersebut, jika semua itu didirikan di atas pasir, percuma saja. Sebab bangunan rumah itu akan runtuh dan kembali pada sebutannya, yakni sebagai ramuan rumah belaka. Walaupun itu bertumpuk namun tak berarti apa-apa selama itu belum menjadi sebuah rumah. Tidak ada gunanya sama sekali. Tidaklah heran bila  kita seringkali tidak merasakan atau tidak mengalami kebenaran kuasa firman Tuhan jika firman Tuhan itu sebatas diketahui saja, tetapi tidak dikerjakan.




Kuasa firman Tuhan yang dahsyat itu hanya dapat kita lihat, rasakan, dan alami bila firman Tuhan itu kita kerjakan dalam hidup kita. Bukankah dunia ini diciptakan dengan

“Berfirmanlah Allah: … Jadilah … ” (Kej 1)

?





Demikian pula, kepada bangsa Israel TUHAN Allah telah berfirman tentang kedatangan Mesias yang akan menyelamatkan dunia ini (mis.Yes 9:ane-6; Dan nine:25). Andaikan TUHAN Allah tidak mengerjakan firman yang sudah diucapkan-Nya, maka tidak akan pernah ada Sang Mesias yang dijanjikan-Nya itu. Faktanya, TUHAN Allah melaksanakan firman-Nya itu. Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus Tuhan kita, untuk mengerjakan keselamatan itu bagi kita dan dunia ini, maka dunia benar-benar memiliki Sang Mesias itu!

Dan, andai saja Yesus Kristus itu tidak mengerjakan firman Sang Bapa untuk mengorbankan diri-Nya demi keselamatan dunia ini, maka keselamatan itu hanyalah mimpi belaka! Faktanya, Tuhan Yesus taat mengerjakan firman TUHAN yang perintahkan kepada-Nya,


Yohanes iv:34

Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.


Ibrani 5:7-8

(7) Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. (eight) Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,


maka keselamatan adalah milik yang pasti bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Puji Tuhan! Betapa besarnya kuasa firman Tuhan itu!


Yesaya 55:xi

“Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”


Roma 9:6a

Firman Allah tidak mungkin gagal.


Ketika keluarga Bapak Poltak mengerjakan firman Tuhan, mereka pun mengecap kuasa firman Tuhan di dalam ketidakberdayaan mereka. Ibu Inul pun berbicara,

“Dulu, saya begitu bergantung pada penghasilan suami saya. Hari Sabtu adalah hari yang kami tunggu-tunggu, karena pada hari itu suami saya biasanya akan membawa pulang uang dari hasil kerjanya. Tanpa saya sadari, saya sudah mendirikan suatu pengharapan yang keliru dengan memandang hasil kerja suami saya sebagai satu-satunya pintu berkat Tuhan bagi keluarga kami. Suami saya sudah menjadi harapan kami satu-satunya.

Ibaratnya, di dalam rumah besar, yakni rumah iman kepada Tuhan, saya membangun lagi suatu rumah kecil, yakni keyakinan kepada suami saya, dengan satu pintu, yakni pintu bagi suami saya untuk keluar lalu pulang membawa hasil kerjanya. Rumah iman yang baru itu terlalu kecil buat kami karena hanya bertumpu pada sosok manusia biasa yang sama lemahnya dengan saya, yang adalah bapa dari anak-anak saya. Karena kepadanya kami bertumpu, maka rumah iman yang saya bangun dalam pikiran saya itu memang benar-benar hanya memiliki satu pintu berkat-Nya, yakni pintu bagi suami saya untuk masuk membawa pulang uang bagi kami.

Sekarang pintu rumah iman kecil itu sudah tertutup dengan sendirinya, sebab orang yang melalui pintu rumah kecil itu sudah tidak dapat lagi keluar untuk kembali masuk membawa hasil kerja bagi isteri dan anak-anaknya. Bayangkan, betapa gelapnya rumah kami. Nafas kami sesak, seperti mau mati rasanya. Saya harus bertindak. Apa tindakan saya? Mungkin ada yang mengira bahwa tindakan saya adalah mencari pekerjaan untuk menggantikan peran suami saya. Tidak! Kalaupun demikian, itu bukan sumber pemecahan pergumulan kami. Yang pertama-tama harus saya lakukan adalah membongkar rumah kecil dengan satu pintu yang selama ini saya bangun sendiri di dalam pikiran saya. Rumah kecil itu telah menutup pandangan iman dan pengharapan saya kepada Tuhan.

Tahukah apa yang saya saksikan setelah rumah itu saya bongkar? Ternyata, rumah besar yang di dalamnya saya hidup, yakni rumah iman dan pengharapan kepada Tuhan, adalah rumah yang dipenuhi dengan begitu banyak pintu dan jendela, Bahkan, di sana-sini, baik di dinding dan di atapnya, banyak lubang-lubang kecil yang memancarkan garis-garis cahaya yang indah sehingga kehangatan cahaya kasih-Nya memenuhi hati kami dan aliran-aliran berkat-Nya  menjadi begitu terbuka bagi kami dari segala celah yang ada di dalam rumah besar itu.

Sejak saya membongkar rumah kecil itu, saya tidak lagi harus menunggu tibanya hari Sabtu itu bagi kami, sebab setiap hari selalu saja ada berkat yang Tuhan alirkan bagi kami. Anak-anak saya dapat pergi ke sekolah setiap hari dengan banyak keajaiban. Kadang mereka mendapat tumpangan dari orang-orang yang seperjalanan pulang dari arah sekolah mereka. Selalu ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk memelihara hidup kami. Kami tetap makan dan minum. Bahkan, biaya pengobatan suami saya dapat terpenuhi. Semua dicukupkan oleh-Nya.

Sekarang, saya merasa jauh lebih tenang dari ketika saya berharap hanya kepada suami saya. Saya tidak khawatir lagi, sebab Tuhan mendapat tempat di hati dan hidup saya untuk bekerja. Saya tidak ingin membatasi ruang lingkup kerja-Nya di dalam hidup kami dan saya tidak akan pernah lagi membiarkan keyakinan apapun yang dapat  menutup diri saya dan keluarga kami dari berkat-berkat-Nya. Biarkan Ia sendiri yang menentukan dari pintu dan jendela atau dari lubang yang mana Ia akan mengalirkan berkat-berkat-Nya itu bagi kami.

Saya bersyukur bahwa keadaan ini harus kami lalui agar ketika suami saya telah pulih dan dapat bekerja kembali, saya tidak akan terkurung lagi dalam rumah kecil buatan saya sendiri itu, melainkan dalam rumah iman dan pengharapan kepada Dia, Juruselamat dan pemelihara hidup kami. Yang saya perlukan saat ini, semoga Ia mengaruniakan kepada saya hati yang tetap percaya dan terus mau mengerjakan firman-Nya dalam hidup saya, agar kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kehidupan kami.”

Cerita Orang Bijak Yang Membangun Rumahnya Diatas Batu Karang


Kuasa firman Tuhan itu juga dijanjikan Tuhan Yesus bagi kita semua. Ia berkata:


Yohanes 15:7

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”

Maka, benarlah kita ini disebut bodoh bila kita tidak melakukan firman Tuhan yang sudah sekian kalinya kita baca dan dengarkan serta sudah sekian lamanya kita ketahui itu. Karena itu pula Yakobus mengingatkan kita:


Yakobus one:22a

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.

Melakukan firman Tuhan itulah ketahanan iman kita dalam menjalani kenyataan hidup di dalam dunia ini, sepahit apapun itu. Pada saat yang sama, melakukan firman Tuhan adalah memberi ruang kepada Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya.

Sekali lagi, mari kita selalu mengingat firman Tuhan ini:


Lukas 11:28

“Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Orang yang tidak melakukan firman-Nya adalah orang yang tidak mau berbahagia. Dan, bukankah hanya orang bodoh yang tidak ingin bahagia?

Cerita Orang Bijak Yang Membangun Rumahnya Diatas Batu Karang

Source: https://www.hennieengglina.com/2011/02/orang-bodoh-dalam-dua-macam-matius-646.html

Check Also

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal

Xls Rab Bangunan Rumah Tinggal Rencana Anggaran Biaya (RAB) Bangunan Tahun 2020 File Sofcopy Dalam …